Kamis, 27 Oktober 2011

GALLERY E M I L I A


long journey :)


IKA  --  ICHA 



EMILIA - ANINDYA :)

Sahabat adalah ketika kita ingin ia memberi 
tak dijabarkan namun ia mengerti. memandang dengan penuh percaya. persahabatan yang indah tak selamanya selalu berjalan mulus. selalu ada  perbedaan sudut pandang serta lain hal. hingga hal spele namun itu bisa menjadi tombak dan cubitan bagi persahabatan, hargai yang masih PEDULI. hargai ia, selagi ia datang untuk memberikan sapu tangun, bukan datang memberikan barang-barang mewah yang berNILAI

Selasa, 25 Oktober 2011

my reason why i write a "novel"

Kalo ditanyak, "ika, kok buat novel/cerbung dah..dapet inspirasi darimana?"
jawaban saya : DARI MIMPI :)

Awalnya, saya suka dengan dunia "entertain" entah itu teater, drama,film, BAHKAN SINETRON. tapi saya ga malu ngakuin kalo saya "KORBAN SINETRON. wkwkwk :D
ga aneh kok. setiap orang kan berbeda-beda, did you agree (?) :)
eittsss tapi saya juga milih-milih sih kalo mau nonton itu hehe

OKE,balik ke pertanyaan awal.

Cause A DREAM ?
aneh yaa?

iyaa. hari itu, engga tau hari apa yang jelas bulannya bulan Juni 2011. udah gak sekolah lagi, Alhamdulillah yah tinggal nunggu "SMA" hehe. Mimpi saya sama persis dengan cerbung "Prince Charming" yang saya buat. Saya suka dengan sahabat laki-laki saya yang dia adalah mantan dari sahabatnya sahabat saya :/ :/ engga ngerti ya?
Same with me huaaaaaaa. so, dibaca aja di Blog ini :)
Ohyaa, lupa saat saya terbangun dari mimpi, saya meneteskan air mata :)

♥ Prince Charming jilid 6 ♥

Aku segera pergi menuju rumah Mona untuk mendapatkan penjelasan darinya, sebelum ku naiki tempat duduk belakang Grand Livina Grey itu, hadphone ku menyiarkan lagu dari Chen Wei-I don’t Want to Know. Ternyata Vicky. Aku menjelaskan bahwa saat ini aku akan pergi ke rumah Mona, saat itu juga ternyata Vicky mengabarkan bahwa Mona baru saja masuk UGD . hadphone tak kuhiraukan tergeletak di atas kaki kanan ku. Aku segera memanggil Pak Chan supir ayahku untuk segera membawa ku pergi Ke Rumah Sakit Cahaya, tempat yang menurutku Mona ada di situ. Kecepatan pak Chan naik saat aku erus menyuruhnya buru-buru. Di tengah perjalanan aku terus menangis, semua pertanyaanku tentang pesan dan keadaan Mona saat ini ada di benakku. Rasanya aku ingin berteriak. Aku ingin memecahkan teka-teki baru ini. Saat itu juga, aku mengerti apa yang dikatakan Mona saat di toilet denganku. Tapi saat itu, ia mengucapkan pilihan/dilema ? apa ini semua ? apakah ada kaitannya dengan Rinda. Entahlah, rasanya aku ngin berteriak dan menenangkan semua kejadian ini. Perjalanan dari rumahku menuju Rumah Sakit Cahaya sekitar 20 menit. Aku terburu-buru turun dari mobil yang membawa ku itu. Hingga meninggalkan handphoneku yang sesaat aku lepaskan tadi. aku segera masuk dengan bertanya pada bagian Receptionist. Belum sempat aku bertanya dadaku sesak, jantung ini. Sakit ini kumat lagi. Tya Tuhan, mengapa ini terjadi di saat genting seperti ini. Aku ingin melihat Mona, tapi mengapa ini terjadi padaku. Saat itu, aku tak tau kejadian apa yang menimpaku lagi.

ruangan berwarna putih, dan suara yang mengatakan “pak, anak bapag mengalami kerusakan jantung. Kerusakan ini terjadi di saat remaja. Mungkin juga, bisa sakit karena keturunan. Rana, harus segera mendapat donor jantung hingga pukul 9 malam nanti. Jika tidak, ada dua kemungkinan. Rana bisa kehilangan nyawa nya saat ini juga, atauu dia bisa sembuh, tapi hidupnya akan terus mengalami penyakit itu dan besar kemungkinan jika ia memiliki anak nanti, akan ada 30% penyakit ini di dalam diri cucu bapak. Maaf pak, saya hanya menjelaskan kemungkinan yang sangat tragis.” Setelah pernyataan lelaki itu aku sudah tak sadarkan diri lagi. Aku tak tau apa yang terjadi dengan diriku setelah itu.

Entah apa yang membuatku tersadar. Di sebelah ku sudah ada ayah, ibu, dan Vicky. Orang-orang yang selalu membuatku nyaman berada disampingku. “ma..” aku mencoba menggerakkan bibirku. Membuka mulut tapi itu susah sekali. Tapi lambat laun hari demi hari aku pun mulai membaik. Mama menceritakan, bahwa aku baru saja di operasi karena ternyata selama ini aku mengidap kerusakan jantung. Vicky, lelaki itu dengan setia menungguiku. Sampai suatu saat aku bertanya dengan mama “ma, siapa org yang telah mendonorkan jantungnya kepadaku ? aku ingin mengucapkan terimakasih padanya, kalaupun skrg ia sudah tidak ada. Aku ingin bertemu dengan keluarganya, aku ingin mengucapkan terimakasih , ma.” Dari perkataanku tadi, aku melihat mata mama mengeluarkan setitik air dari matanya hingg mengenai jari-jari ku, begitu juga dengan Vicky, ia tak berani mentapku dan melap wajahnya dengan tangannya, apakah ia sedang menangis ? “ky, loe kenapa, cloe nangis yaa. Ih cengeng banget sih. Mellow ne ceritanya, gue tu udah sembuh. Mm... entar loe mau kan temenin gue ke rumah keluarga yang udah nyumbangin jantungnya buat gue. Loe mau kan?” aku sumringah melihat anggukan darinya. Aku teringat sesuatu, di mana Mona ? tapi, aku tak berusaha bertanya dengan siapapun. Mungkin, Mona sedang ada di rumah beristrahat. Walaupun aku tidak tau, dia masuk rumah sakit gara-gara apa.

Siang itu, aku putuskan untuk pulang dari rumah sakit. Karena sedingin-dinginnya rumah sakit. Aku merasa tak nyaman di sana. Aku pulang berdua dengan menaiki Mercy putih miliknya. Saat di perjalanan aku menyuruh Vicky untuk pergi mengantarku ke rumah orang yang telah mendonorkan jantungku ini. Akhirnya, setelah 25 menit di perjalanan, kami sampai di ebuah rumah yang tak asing bagiku. Rumah ini rumahMona, sahabat perempuanku. Aku dan Vicky menuruni Mercy putih itu. “ky, qt mau ngapain ke sini, emg.a Mona masih sakit. Kita mau jenguk Mona, ya?” aku terbingung melihat anggukan yang diberikan Vicky. Vicky telah mengetuk pintu rumah Mona. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu. Ternyata mama Mona. Ia langsung seketika itu memelukku, dan menangis dipelukku. Ia mempersilakan aku dan Vicky untuk masuk. Kami duduk di sofa yang tidak begitu kecil, dan di dinding itu terlihat banyak foto Mona. “tante, Mona mana ? kok ga disuruh menemuiku ? aku kan, udah kangen banget sama dia. Aku juga mau kasi tau , kalo aku udah sembuh, tan. aku juga mau, Mona menemaniku pergi ke rumah seseorang yang telah memberikan jantungnya untukku, tan. mana Mona tante ?” aku sangat antuisas, ke antusiasan ku itu, di balas dengan tatapan lemah dari Mama Mona dan Vicky. Akirnya, Mama Mona pergi ke belakang. Mungkin, untuk memanggil Mona agar segera menemuiku. Tapi ternyata tidak. Ia datang dengan membawa sebuah kotak. Dan ia menyuruh aku membuka Kotak Biru itu. Akupun membukanya dengan perlahan. Sebuah surat, album foto, dan sebuah boneka lumba-lumba kecil. Aku mulai membaca perlahan surat itu.

Untuk sahabat terindahku,
Tamara Arlinda Kirana. Hay ran, gimna kabar loe ? gue harap baik-baik terus yaa. Ran, gue minta maaf atas semuanya, gue harus pergi ninggalin loe. Ran, gue sayang sama loe. Loe sahabat gue. Ga ada yang bisa gantiin loe ran.
Ran, kalo gue pergi, gue ttep mau deket sama loe. Makanya loe jaga baik-baik amanah gue yaa. Jaga jantung gue ran. Gue akan terus temenin loe. Loe gausah takut, kalo loe kangen gue. Loe pegang dada loe, loe bakal ngerasa deket sama gue, Rana. Ran, gue pergi dengan tenang. Malah gue bersyukur. Gue ga akan ngebuat luka di hati loe, dengan cara negajauhin loe sama Vicky. Vicky emang cuman cinta sama loe, dan gue gabisa marah sama loe, kalo loe emang hanya mencintai sahabat kita itu.
Loe masih inget kejadian di toilet. Hmm ran, gue sakit ran. Saat itu gue tau, kalo Vicky mencintai sahabat gue. Yaitu elo. Bukan sahabat gue, Rinda. Gue dilema Ran. Gue pengen liat loe bahagia sama Vicky, tapi gue gamau ngianatin Rinda. Kalian sahabat gue. Oyaa, mengenai pesan gue itu. Maaf darling. Itu yang gue rasain, gue dilema. Gue tau gue salah. Tapi cuman itu yang bisa gue tulis, setelah itu masih banyak yang gue mau tulis, tapi tiba-tiba gue udah ga sadarin diri, Ran
Oyaa ran, gue juga tau. Loe liat darah di tissu kan. Itu punya gue ran.
Ran, dengan perginya gue. Gue harap loe bisa jaga diri, Vicky syg loe. Jaga dia yaa. selamat tinggal sayang. Gue akan terus sama loe. Jantung gue, jantung loe. Raga gue lenyap, tapi kenangan kita ga mungkin lenyap kan di hati loe. Bye
Salam terhangat, sahabatmu, Mona Rifka Handayani

Jatuhlah kertas itu dan aku mulai berteriak “enggaaaaaaaaak Monaaaaa, jangan tinggalin gueee, loe jahat Mon” tanpa tersadar air mata berlinang sangat cepat. Hingga membuat ku jatuh kelantai. Aku tak kuat. Jadi, selama ini, Mona tau tentang Vicky. Vicky yang berusaha menenangiku tapi aku terus berontak sampai akhirnya Mama Mona berkata dengan linangan air mata “nak, hik, kamu harus kuaat Mona syg sama kamu nak. 1 tahun belakangan ia mengidap penyakit Leukimia. Ia berusaha mencari donor sumsum tulang belakang. Hingga pada saat.a ia sudah tak dapat tertolong lagi. Aku menangis dan memeluk Vicky. Dalam pelukan itu, aku memukul Vicky dengan lemah. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.
Katika aku terbangun, aku sadar apa yang telah terjadi padaku. Aku meminta Vicky mengantarku ke ‘rumah’ Mona saat ini. Rumah nyaman Mona. Aku mendatangi pemakaman Mona. Tertuliskan
Mona Rifka Handayani Binti Shaleh
Tanggal Lahir : 28 November 1996
Wafat : 2 Februari 2009
Tepat seminggu yang lalu. Seminggu saat aku berada di rumah sakit dengan terkulai tak berdaya. Ia, telah berada jauh di tempat peristirahatannya yang nyaman. Disana aku mulai menangis lagi, tapi berusaha untuk tidak berteriak. Di sana, aku tak sanggup berkata apa-apa , aku tak kuat untuk membuka bibirku, ataupun hanya sekedar mengucapkan terimakasih.

2 bulan telah berlalu. Begitu juga dengan perginya sahabat tercintaku itu. Tidak banyak kejadian yang kulewatkan. Saat 2 bulan itu, aku dan Vicky m=sibuk untuk mempersiapkan diri kami untuk sekolah baru kami yaitu SMA. Aku dan Vicky memutuskan untuk tidak berada pada satu sekolah. Karenabanyak faktor.
Hari ini, hari pertama masuk sekolah. Dengan seragam putih abu-abu. Yaa, hari ini, hari yang kunanti. Dimana aku memulai hari baru dengan mulai mencari sahabat baru. Di sekolah itu, aku bertemu kembali dengan perempuan cantik yaitu; Rinda. Ia menghampiriku, dan seketika memelukku “Ran, gue harap kita bisa jadi sahabat. Gue mau loe bersedia mengisi kursi Mona di hati loe, begitu juga gue. Gue mau loe ada sebagai sahabat gue seperti Mona. Ran, Mona pasti seneng liat kita bisa jadi sahabat. Gue mau dia bahagia ngeliat kita. Soal Vicky, gue sadar Ran. Selama ini dengan sikap Vicky ke gue. Gue salah menilainya. Maafin gue. Posisi gue saat ini, sama dengan posisi Dafa. Dafa mengajari gue tentang keikhlasan dan ketulusan.gue iklhas kalo loe bisa terus sama Vicky, Ran”. Aku tak kuasa menahan semua anugerah yang diberikan Tuhan padaku saat ini. Dan akupercaya, bahwa Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Dan aku percaya,semuanya indah pada waktunya, tak ada yang tak mungkin jika kita terus berusaha.

Sejak semuanya indah, aku dan Rinda, menjadi teman akrab. Tanpa ada rasa permusuhan sedikitpun. Ternyata, bukan hanya aku, yang diberi surat oleh Mona. Tapi juga, Rinda.

Suatu hari, saat aku berjalan di sebuah pantai. Pantai ini mengingatkan aku dengan Dafa. Yang kabarnya, Dafa bahagia bisa pindah ke Paris. Selain study, membantu ayahnya dalam bisnis. Ia juga bisa melupakan ku. Itulah pengakuannya padaku. Hari ini, aku merasakan ombak begitu bersahabat. Dan gidak lama, terdengar suara dari arah kanan. “hay, apa kabar ? lumba-lumba biruku?” . ia, dia adalah Vicky. Syang selama ini mengerti tentang kehidupanku. Saat itu, pantai menjadi saksi cinta aku dengan Vicky. Di pantai itupun. Ia mengutarakan perasaannya, ingin terus bersamaku, dan tentunya bersama sahabat kami. Mona. Yang berada selama 24 jam denganku. Semuanya berakhir indah. Aku, Rinda, Vicky, dan tentunya Mona.


E N D

♥ Prince Charming jilid 5 ♥

Tepat pukul 11 malam, beberapa murid telah memasuki tenda mereka masing-masing untuk tidur, ataupun berkumpul bersama dengan teman dekat mereka di dalam tenda. Syifa, Ratna, Mona, dan Fani mereka sudah lama terlelap dalam tidur mereka masing-masing. Hanya aku, yang masih segar dengan earphone di telingaku. Saat jarum jam panjang di angka 4 dan jarum pendek berada di angka 12 aku ingin sekali keluar dan menikmati malam yang kurasa penuh bintang. Akhirnya aku keluar tanpa menggangu tidur pulas teman-temanku itu. Aku memilih untuk duduk atau tepatnya berbaring diatas hijaunan rumput. Aku melihat betapa indahnya bintang yang tersenyum padaku. Aku meras ada yang mengikutiku , “Vicky?” aku melihat Vicky telah berada di belakangku sontak aku terbangun menjadi berdiri untuk memastikannya. Tiba-tiba ia menatapku dan ia memelukku. Memelukku sangat erat. “Tamara Arlinda Kirana gue sayang elo” itulah kata pertama yang aku dengar saat aku berada dalam pelukannya. “ky, lepasin gue ! “ aku berkata dengan nada tinggi tanpa membangunkan orang-orang yang telah terlelap tidur. “maksud loe apa , Hah ? loe gila yaa, loe mau nyari mati , iya ! kalo sampe Dafa tau, loe bakal mati tau ngga.” Nada ku benar-benar marah. Aku tak kuasa menahan semuanya.
“kenapa ? kenapa kalo gue mati, apa loe bakal nangisin gue ? hah ? nggk kan ran. Loe udah ga pernah peduli sama gue. Kalo loe peduli sama gue, loe bakal tau semua yang terjadi di balik skenario ini. Loe bakal tau ran. Tapi apa ? loe ga pernah mengerti apa yang gue rasa selama ini.” Pernyataan itu membuat Vicky hampir terjatuh dan menangis.
“maksud loe ? gue emg gatau apa yang terjadi sama loe dan Rinda. Gue gatau kenapa loe saat itu langsung tutup telfon gue, padahal saat itu gue mau minta penjelasan sama loe tentang hubungan loe sama Rinda, tapi apa ? loe mati’in kn telfon gue.”
“Rinda ? apa maksud loe bilang gue kyg gini gra-gra Rinda?” ia terlihat kebingungan.
“loe jadi ngejauh dari gue, itu semua karena loe butuh waktu untuk lupain Rinda kan. Mkanya gue gamau ganggu loe ky. Cuman itu.” Saat aku lontarkan pendapatku. Vicky kembali menatapku dan mendekat denganku.
“jadi itu semua yang ada di otak loe, haha hebat yaa. Ternyata loe ga sepinter yang gue kira.” Mendengar itu semua mata ku melongo tajam. Tidak lama, Vicky balik badan, dan langsung pergi, sebelum ia pergi jauh. Aku tak mengerti, otak dangerakan sadarku aku membuat dua tangan ku melingkar di pinggang Vicky. Aku telah memeluknya dari belakang. Saat aku merasa aku benar-benar sadar pada saat itu. Aku tak berusaha untuk lepaskan lingkaran tanganku itu. Vicky membalas pelukan ku, ia memegang kedua tanganku dengan kedua tangannya yang besar itu. Ia melepaskan tanganku , lalu berbalik mencium keningku. “Loe Mrs. R gue , ran. Loe masih inget kenapa waktu itu yang dateng ke rumah loe bukan gue tapi Dafa ?” aku mengangguk. Lalu ia melanjutkan penjelasannya “dia sempet nanya sama gue semua hal tentang loe. Gue gabisa nolak Ran, karena waktu itu gue rasa, gue ga ada hak untuk ga ngasi tau sesuatu ke orang yang mau deketin sahabat gue. Akhirnya, saat gue sadar dan tau loe jadian sana Dafa , sakit ran. Sakit hati gue. Dan yang telfon lu pagi-pagi itu gue ran.”

Aku sungguh kaget dan gondok mendengar perkataan sahabat lelaki ku itu. “maksud loe? Jadi selama ini loe? Mmm tapi loe mau balikan kan sama Rinda, buktinya tadi loe nyanyiin lagu buat Rinda. Gue yakin ky, perasaan loe sama gue itu kyg angin doang ya hehee loe kan sahabat forever gue.” Aku membuat situasi menjadi akrab dengan candaanku. Tapi blasan Vicky tambah membuatku kaget “Mrs. R, bukan Rinda tapi Rana.” Ia melihatku tajam. Saat itu, tiba-tiba dadaku kembali sesak, aku hampir terjatuh tapi tidak saat Vicky menangkapku dan membawaku kembali ke tenda sambil berteriak. “paaak, bu, Rana bu pak. Ran, loe kenapa ran. Ranaaaaa”. Lalu semua orang yang tadinya terlelap di dalam tenda masing-masing keluar dan memberi pertolongan padaku. Aku tak tau apa yang terjadi denganku saat itu. Bayangan gelap dan saat ku buka mataku, hari sepertinya telah pagi, aku mulai mencoba untuk bangun. Aku melihat Mona menungguiku dan sepertinya tideak tidur semalaman, karenan matanya terlihat sembab. “Mon..” aku memanggilnya. “ia , ia Ran. Loe udah bangun? Semalem loe pingsan jadi gue nungguin loe. Loe udah ngga apa-apakan ?” mona terlihat khawatir denganku. “ia Monaa, gue ga apa-apa. Thengs yaa, loe udah mau nungguin gue. Pasti loe ga sempet tidur kan, nungguin gue.
“loe apa’an sih. Gue kan sahabat loe, udah kewajiban gue jagain loe. Lagian, gue ga sendiri nungguin loe, diluar Vicky juga nungguin loe. Loe ada apa semalem keluar Ran? Bareng Vicky , ya ?”
“ng.. anu oh ya ? Vicky di luar ?” aku mencoba melihat.
“barusan dia izin sama gue mau cari air bersih buat mandi” Mona menjelaskan. Akupun kembali berbaring, saat Mona izin denganku untuk keluar sebentar. Aku menyimak setiap kata yang dilontarkan oleh Vicky. Tiba-tiba “kenapa gada sosok Dafa saat kejadian semalam” aku melontarkan kata Dafa. Dafa tidak melihatku , apa ia tidak khawatir denganku ? . aku memutuskan untuk keluar tenda. Sebelum aku keluar, aku melihat ada darah di atas tisuu. Aku mencoba memastikan, apakah itu darah apa bukan. Ternyata ya, itu darah. Aku tak tau siapa pemilik tissu itu. Akhirnya, aku mengabaikannya.
Pukul 2 siang, kami bersiap untuk kembali pulang. Aku sempatkan mencari Dafa, aku melihatnya sedang duduk di bawah rindangnya pepohonan hijau. “Dafa” aku mencoba mendekati. Dafa berbalik arah ke hadapanku, ia terlihat sedang menangis. Aku mencoba bertany, namun ia malah memelukku, dan mengajakku untuk pergi ke bus. Karena bus akan bersiap untuk berangkat. Aku tak tau apa maksud pelukkan Dafa itu.

1 bulan telah berlalu

Tidak banyak kejadian yang terjadi dalam kehidupanku. Vicky, ia masih saja menjauhiku bahkan setelah kejadian di tempat wisata saat itu. Dafa pun menjadi aneh, ia tidak terlalu sering menghubungiku. Tapi, mungkin itu wajar karena saat itu kami sedang menjalani UAN untuk jenjang SMA. Mungkin Dafa dan Vicky ingin konsentrasi dengan Ujian saat itu.
Kini, ujian telah berlalu dan aku di terima di salah satu sekolah yang selama ini aku impikan. Aku tidak tau dengan nasib Dafa, dan Vicky. Soal Mona, aku tau dia juga diterima di salah satu SMA favorit. Sedangkan Rinda, yang aku tau ia satu sekolah denganku. Aku tak menyangka, akan satu sekolah lagi dengannya. Aku senang, tapi juga sedih. Aku merasa telah membohonginya dengan mempunyai perasaan lebih dengan mantannya yaitu sahabtaku sendiri. Aku sadar, itu akan menjadi boomerang bagi diriku sendiri.
Hari ini, aku berdiri di atas sebuah gedung tinggi, hanya untuk merasakan indahnya dunia, dengan sejuknya angin yang membuat rambut-rambutku berterbangan. Akupun merasa lebih dekat dengan langit biru.  Sesak itu, detakan jantung ini. Aku mendengar hentakkan kaki terarah padaku. Aku berbalik ke arah hentakkan kaki itu. Dafa. Dafa yang ada di hadapanku saat ini. “dafa? Loe ngapain ke sini ? kok elo ?” .
“Ran, gue tau selama ini, gue bukan orang yang tepat buat loe. Gue selalu mimpi untuk terus bersanding sama loe, ran. Hmm tapi itu hanya mimpi yang mungkin gue rasa ga pernah bisa terkabul.” Dafa menyatakan itu semua dengan membelakangiku. Lalu ia melanjutkan pembicaraanny tadi. yang sempat terpotong dengan tawa kecilnya. “ran, gue mau loe bahagia sama pilihan loe. Bukan pilihan semu biasa. Pilihan adalah masa depan ran. Loe ga bisa main-main dengan pilihan loe. Ran, Vicky yang terbaik buat loe. Gue tau dia cowok yang selama ini syg sama loe, dan yang loe sayang kan. Not me.” Saat ini ia mulai berbalik ke hadapan ku saat aku bertanay darimna ia yakin semua tentang itu. “gue cari tau semua sama Vicky. Pertama waktu gue dateng ke rumah loe, buat jemput loe. Gue tau dari Vicky. Trus semua sureprise yang gue buat , buat elo, termasuk waktu ke pantai dengan kerikil hati dan boneka lumba-lumba biru. Itu semua ide dari Vicky, Ran. Ternyata cinta Vicky lebih besar daripada cinta gue ke elo Ran. Waktu di perkemahan, malem-malem gue sempet liat elo semua kejadian elo sama Vicky. Gue denger semua Ran.” (sambil memegangi kedua lenganku). Aku tak kuasa menahan air mata itu. “yang loe harus lakuin sekarang, pergi Ran, pergi temui Vicky. Bilang, kalo loe juga syg sama dy. Loe butuh dia.” Aku ikut terpana dengan perkataan Dafa. “tapi fa, gmna sama..” . belum aku selesai melanjutkan kata-kata ku. Dafa tau apa yang telah aku fikirkan “loe gue kasih kebebasan untuk cari cinta sejati loe. Gue mau liat loe bahagia. Hari ini, gue lepasin ikatan antara kita. Gue kasi loe kebebasan.” Lalu ia mencium keningku. Dan membiarkanku berlari.

Aku datang menemui Vicky ke rumahnya, ternyata ia tak ada di rumah. Kata kakak nya, ia sedang ada di taman dekat rumah mereka. Aku berlari menemui Vicky yang sedang duduk di tepi taman dengan tatapan kosong, dan kedua tangan yang ia taruh di atas kepalanya. “Loe nunggu gue ya? Gue disini buat loe. Apa ada yang lain, loe tunggu ?” senyumku melebar. Ia berdiri, dan mendekat padaku, “Ran ? maksud loe, gue?”. Aku langsung memeluk lelaki yang aku cintai itu. Yaa, lelaki itu yang selama ini aku cari. Lelaki yang tau segalanya tentang ku. Lelaki yang dapat memahamiku.
“Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.iya kan ?”
“Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan” . aku membalas perkataan lelaki itu. Akhirnya hari itu, aku merasa teka-teki misteri itu terpecahkan sudah.

Malam ini, hatiku terasa tentram. Handphoneku kembali mengeluarkan lagu dari Angela Zhang-Bu Xiang dong de 2x . ternyata benra, 2 pesan masuk. Pesan yang pertama dari Dafa. Ia mengatakan, bahwa ia telah berangkat ke Paris untuk melanjutkan study nya di sana. Dan ia juga berkata, bahwa ia sebelumnya telah bertemu dengan Vicky dan mengatakan semuanya. Aku cukup sedih ternyata tadi adalah pertemuan terakhir ku di Indonesia dengannya. Tapi aku bahagia telah menjadi bagian dari hidupnya. Aku kemabali tersenyum. Setelah ku balas pesan dari Dafa tadi, saatnya ku membuka sms dari Mona. Isinya cukup mengagetkanku.

Ran, gue mohon sama loe. Lepasin Vicky. Gue tau loe sayang sama dya. Tapi gue mohon Ran, hargai posisi gue sebagai sahabtanya Rinda. Tolong ran, gue sangat minta sama loe. Thanks :)

seperti di hantam batu besar aku gondok dan lemah mendengar perkataan Mona tadi. jadi selama ini ?

 To be continue

♥ Prince Charming jilid 4 ♥

Saat pengumuman berlangsung semua murid mulai tidak tertib. Di tengah-tengah keramaian aku fokuskan diriku untuk mencari seorang lelaki berkulit putih, mancung, dan tinggi. Dan aku melihatnya, lelaki itu Vicky berdiri tegak senang menatap ke arahku. Tatapan berbeda, tatapanny dingin kepadaku. Tidak lama tatapannya ku balas, suara Ramond terdengar. Ia membubarkan keramaian kami dengan menyelesaikan Upacara hari itu. Dafa menhampiriku dan membahas tentang wisata yg direncakan besok hari. “loe, besok ikut wisata kan?’’ . aku tak menghiraukan sedikitpun perkataan lelaki di sebelahku itu. Aku hanya memikirkan apa maksud dari tatapan Vicky itu. Apakah ada yang salah dariku apakah aku telah berkata yang salah denganny. Entahlah. Terdengar suara Dafa yang kini wajahnya lebih dekat denganku. “Ran ? loe kenapa ?” .akupun tersadar “iyaa ky”. Tanpa sadar, akupun mengeluarkan nama seorang yang tadi telah aku fikirkan lelaki yang selama ini aku khawatirkan , Vicky , bukan kekasihku Dafa. “maksud loe? Oh, jadi loe ga nyimak apa yang gue omongin, tapi loe malah fikirin cowok itu, jadi bner firasat gue kalo loe sama dia ‘fallin love’ IYAKAN!’’ aku kaget dengan reaksi Dafa yang begitu keras dengan hingga membuat dia berdiri tegak. Akupun ikut berdiri “maksud loe apa? , gue tu cuman” perkataan ku terhenti saat di otakku mengulang perkataan Dafa jadi bner firasat gue kalo loe sama dia ‘fallin love’. Apa ini ? tiba-tiba dadaku terasa sakit, jantungku berdebar begitu kuat dan aku mulai memgangi dadaku dengan kedua tangan “awww, faa please gugugu...guee minta...” . sontak Dafa menangkap tubuhku dan berkata “gue maafin loe, sumpah. Gue ga bakal nuduh loe yang gak gak. Gue syg sma loe Ran. Maafin gue”. Dengan memegang salah satu tangan ku Dafa meminta maaf atas tuduhanny padaku. Tiba-tiba seketika rasa sakit itu hilang. Aku mulai tak mengerti dengan sakit yang sering ku rasa itu. Apakah ini ada kaitannya dengan Dafa atau mungkin ini hanya penyakit biasa.  Kejadian itu ternyata di saksikan oleh Mona. Sahabtu dan sahabt Vicky pula. Mona menghampiri kamu dan menepuk salah satu pundak Dafa. “fa, jaga sahabat terbaik gue ini, yaa. Gue gamau dy sakit hati gara-gara seorang cwok. Dan gue yakin loe emg cowok yang pas buat dia” Dafa melempar senyuman dengan Mona, yang lalu di balas senyum oleh Mona.

Hari itu, kami memang sekolah hanya untuk pengarahan. Jadi, kami pulang cepat. Saat pulang, aku sempat beberapa menit berada di toilet untuk merapikan seragamku. Disana, aku bertemu Mona. “mona?” (sembari mengeluarkan senyum ke sahabatku itu). Tiba-tiba Mona memelukku, dan berkata “gue ga tahan Ran, gue gamau loe tinggalin gue sebagai sahabat. Jujur, ini dilema buat gue. Gue syg bgt sama loe, loe sahabat gue. Loe tau kan, walaupun kita belom lama jadi sahabat, tapi gue gamau pisah sama loe. Apalagi sampai loe benci sama gue” . airmata itu turun begitu deras di seragam ku. Aku ingin melepaskan pelukan Mona, dan ingin menatapnya. Tapi, tidak. Tidak bisa. Mona seakan tak ingin pergi dari sisiku. Beberapa menit ia menangis dalam pelukku. Ia berlalu meninggalkan ku sendiri tanpa memberi penjelasan yang pasti mengenai tangisan dan perkataannya itu. Aku ? benci dengan Mona ? itu seakan tak mungkin, Mona sudah seperti Ibu kedua bagiku. Ia sahabat yang sangat bisa memerhatikanku. Selama aku hidup, mungkin ia adalah sahabat terbaik dalam hidupku. Ia tak seperti wanita lain, ia berbeda. Hmm apa maksudnya. Akupun semakin bingung dengan semua ini Tuhan. Mulai dari Vicky, yang tidak pernah berkomunikasi denganku, bahakan tadi sempat menatapku dingin. Sekarang, Mona yang menangis dalam pelukku dengan alasan yang tak pasti. Tanpa sadar, akupun meneteskan serpihan air mata. Aku buru-buru menghapus air mata itu, karena mendenga alunan lagu dari Angela Zhang-Bu xiang dong de pertanda ada peasan masuk. Saat ku baca, benar. Dafa menungguku terlalu lama. Akhirnya akupun keluar dari kamar mandi dan mencari Dafa di parkiran.
“loe kemana aja sayang? Ada msalah tadi? kok lama banget gue tunggu?”
“mm maaf fa, gue tadi abis ketemu Mona. Dy nangis waktu ketemu gue. Yaudaa, gue lama. Maaf yaa” aku berusaha menjelaskan dengan wajah khawatir.
“haha hm yaudah nanti sampe di rumah, loe mau kan cerita sama gue?” Dafa meminta. Aku tersenyum dengan berarti aku mengiyakan permintaan kekasihku itu.
                                                                         ***
Malam ini, aku memutar kembali kejadian-kejadian pagi tadi. mulai saat Vicky menatapku dingin, detak jantung itu, sampai Mona menangis di pelukanku. Apa semua ini ? aku sunggu tidak bisa menyatukan teka-teki ini. Aku rasa, ada yang salah. Tapi aku tak mengerti sedikitpun. Aku mulai merapikan barang-barang untuk ku bawakan besok saat wisata perkemahan. Aku membawa pakaian secukupnya. Karena disana udaranya pasti sangat dingin, makanya aku membawa beberapa pakaian yang tebal. Serta tidak lupa. Boenka lumba-lumba biruku, pemberian Dafa. Malam itu, aku tidur dengan nyenyak seperti hari biasa, sebelumnya aku telah menceritakan kejadianku bersama Mona di toilet. Dafa lebih ke reaksi menenangkan ku bahwa takkn terjadi apa-apa dengan persahabatnku itu. Yah, dan akupun berharap begitu.
                                                                         ***
Pagi menyinari kamar ku seperti biasa. Alunan lagu Chen Wei-I don’t want to know berdering tepat di telingaku. Akupun bangun tanpa menghiraukan siapa yang menelfonku pagi itu. “bangun Ran, udah pagi. Loe ga boleh telat dateng ke sekolah. Bus gamau nunggu yang telat loh. Hehe gue harap disana semuanya terungkap Ran. Gue mau loe bahagia sma pilihan loe Tamara Arlinda Kirana”. Aku tersentak dan kemudian menatap layar hadphoneku ternyata panggilan sudah ditutup. Saat kubuka list panggilan masuk ku, ia menggunakan Private Number. Sontak aku memukul mukul-mukul badanku sendiri. Betapa bodohnya aku, mengapa aku tak buru-buru menanyakan siapa laki-laki itu. Suaranya, aku menegnal suara itu, tapi aku masih bimbang bahwa itu Dafa. Saking kesalny pada diriku, aku pun lupa bahwa pagi itu aku harus buru-buru berangkat, karena selain akan pergi wisata dari sekolah. Hari itu aku akan diantar oleh ayahku. Dafa tak mungkin menjemputku, ia akan diantar juga oleh supirnya.

Aku telah siap dengan tas ransel besarku. Aku mnegnai baju putih dengan jaket panjang berwarna biru. Dan jelana jin’s hitam, tak ketinggalan syak biru ku. Aku siap melangkah hari itu, dan segera berpamitan dengan mamaku. Saat aku menaikkan kaki ku ke Grand Livina Grey itu, ibuku berteriak “Hati-hati nak. Jaga diri kamu yaa” dengan senyuman khas dari mamaku. Aku blas senyuman itu dengan lambaian tangan dan senyuman indah ku juga.

Di tengah perjalanan ayah membuka pembicaraan. “nak, bagaimana hubungan kamu dengan Dafa ?”
“aah baik-baik aja pa, knp ?” aku tak mengerti maksud dari pembicaraan ayahku itu. Setelah itu, ia tak menjawab pertanyaan ku lagi.
Sesampainya di depan skolah, sudah banyak kerumunan para murid yang siap untuk menjelajah tempat wisata yang dalam benakku memang sangat berbeda. Dan aku bisa melupakan semua kepenatan yang ada, tapi aku berfikir mana mungkin semua kepenatan akan hilang jika dua objek yang sedang ada di benakku akan ada di sejauh mataku memandang. Vicky dan Mona. Saatnya aku berpamitan dengan ayahku, dan keluar dari Grand Livina Grey tersebut. Tiba-tiba Mona menghampiriku dan mengajakku duuduk bersama. Karena memang, dalam satu bus diisi untuk kelas yang sama. Aku dan Mona. Vicky, dan sebenarnya aku berat mengatakan bahwa Rinda satu kelas dengan Vicky. Selanjutnya, kekasihku, Dafa berbeda kelas dariku mupun Vicky dan Mona. Tepat pukul 9 pagi, depan sekolah ku, telah banyak terkumpul para murid kelas 9 yang sangat antusias, tapi tidak denganku, entah mengapa aku menjadi terpikir omongan ayah. Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita dengan Mona saat diperjalanan nanti. “baik sohib-sohibku tercinta, saya yakin kalian bisa menjaga diri kalian masing-masing, setelah saya membubarkan kalian, silahkan memasuki bus kalian masing-masing sesuai kelas kalian. Are you readyyyyyy?” suara itu , yaa itu adalah suara Ramond. Lelaki paruhbaya yang masih merasa muda. Setelah ia membubarkan kami, kamipun masuk ke dalam bus masing-masing. Diperjalanan aku sedikit melupakan semua kepenatan yang baru-baru ini adadalam benakku. Itu semua karena tingkah laku teman-temanku ada yang memainkan alat musik sambil bernyanyi yaitu; Syifa dan Andre . ia berdua memang mempunyai bakat bernyanyi dan memainkan alat musik. Ada Fani dan Ratna yang sibuk merekam kejadian-kejadian kami di dalam bus. Sisanya ikut bernyanyi bersama Syifa dan Andre. Aku dan Mona pun ikut bernyanyi bersama seperti anak-anak yang lain. Saat di perjalanan yang sekiranya belum jauh dari tempat keberangkatan kami, aku menceritakan semua kejadian seperti Vicky yang mulai menghindariku, dan perkataan ayah padaku. “mungkin Vicky emg butuh waktu buat sendiri Ran, udah loe harus lupain dy juga. Loe juga harus bisa terbiasa dengan sikap nya itu, lagian loe kan udah punya ‘Prince Charming’ Dafa loe itu, cieeee eheem” itulah reaksi Mona saat aku menceritakan Vicky aku pun hanya tersenyum dan mengerti, mungkin?. Aku juga memutuskan tidak menceritakan tentang telfon tadi pagi dengan Mona aku tidak mau membuat sahabtku itu terbebani juga. Cukup aku.

Hari itu udara sangat menyenangkan. Sejuk, dan angin pun bersahabat. 1 jam perjalanan telah habis, dan tiba-tiba bus berhenti, ternyata memang kami sudah sampai di tempat tujuan. Tempat itu bisa aku lukiskan, indah karena semuanya penuh dengan hijaunya rumput dan pepohonan. Tidak seperti yang ku bayangkan. Aku fikir seperti hutan belantara yang tidak menyengkan. Tapi tempat itu mengubah khayalanku dan bahkan semua murid-murid mulai memasang tenda. Aku, Syifa, Mona, Fani dan Ratna memang skami satu tenda. Kami kesusahan untuk mendirikan tenda tersebut, karena kami memang tidak ahli dalam maslah perkemahan. Tiba-tiba seseorang yang tidak aku sangka datang, Vicky tiba-tiba mendirikan tenda itu. Membantu Syifa dan Mona. Aku hanya mampu melihat tingkah lelaki itu. Aku ingin sekali bertanya semua pertanyaan yang ada di fikiranku. Tapi entah mengapa aku merasa asing dengannya. Aku pun hanya mampu diam. Beberapa menit telah berlalu, dan tenda sudah tegak dengan bantuan Vicky. Tanpa ku sangka, Vicky menghampiriku, aku pun mengepal kedua tangan ku hingga menjadi bulatan. Agar semua emosi ku tertumpu. Vicky mulai mendekatiku. Aku pun tertunduk dengan tangan yang ku kepal tadi. Vicky memang tinggi, tinggiku sejajar dengan pundak atletis Vicky. Lalu, ia mengucapkan sesuatu padaku “Maafin gue”. Aku pun mmemberanikan diri melihat wajah Vicky. Ternyata ia tak menatapku, ia menatap ke arah depan. Setelah itu, ia berlalu pergi tanpa mengucapkan kata-kata apapun lagi.
Aku pun ikut berlalu dan ikut masuk ke dalam tenda untuk merapikan tampat nyaman untuk aku dan teman-teman ku di tenda.

Pagi, siang, sore kami telah lewati setengah hari dengan bercanda. Karena memang guru pembina di sana tidak membuat hal yang mengekang kami. Disana kami bebas melakukan aktifitas yang positif. Malamnya, acara api unggun telah disiapkan. Kami semua keluar dari tenda masing-masing dengan kebanyak memakai pakaian tebal karena memang udara pagi saja sudah dingin. Apalagi udara malam yang sangat dingin untuk kami. “gue mau nyanyi” suara itu sontak mengenyahkan aktifitas yang ada. Suara itu keluar dari mulut seorang lelaki Vicky. Keluarga Winata yang memiliki sifat jail. Tiba-tiba ingin bernyanyi. “lagu ini untuk wanita berinisial ‘R’ yang selama ini memang ada di hati gue. Gue ga pengen apa-apa dari loe. Gue cuman mau loe tau gue punya loe, meski loe bukan punya gue.” Kami semua langsung melirik Rinda, si Mrs. R yang dimaksud Vicky. Karena memang wanita itulah yang pernah menjadi milik Vicky sebelumnya. Mata Rinda berkilau. Mungkin ia memang sangat terharu dengan semua perkataan Vicky.
Bagaimana mestinya, membuatmu jatuh hati kepadaku..
Tlah kutuliskan sejuta puisi, ku yakinkanmu membalas cintaku
Haruskah ku mati kerana mu,
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu, haruskah kurelakan hidupku.
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku

Itulah lirik-lirik lagu yang ada di dalam lagu Ada Band-Haruskah ku mati. Aku memerhatikan Vicky dengan petikan gitarnya yang indah itu. Malam itu, aku tau sisi serius bahkan sisi romantis dari seorang Vicky. Ia memang terlihat gagah dengan postur tubuh yang memadai. Lelaki idaman setiap wanita. Aku pun tersadar dari lamunanku saat sebuah tangan menghampiri di puncak kepalaku. Tangan Dafa. Ia, menghampiriku. Kami berdua asyik dalam obrolan kami, dan aku merasa Vicky memerhatikan kami. Tidak lama kemudian, Vicky selesai dengan alunan indahnya itu.

To be continue